
Doa bentuk komunikasi spiritual antara kita (ciptaan) dengan TUHAN (pencipta).
Ketika hendak berdoa setiap orang boleh punya caranya sendiri menurut ajaran yang diyakininya.
Namun prinsip dari doa itu sendiri tetaplah satu, yakni Doa adalah cara mengisi satu titik kekosongan didalam hidup manusia yang diekspresikan dalam bentuk / cara yang lebih positif dan tidak merusak.
Namun ketika seseorang tidak mampu menemukan cara mengisi kekosongan tersebut, maka ia akan mengisi dengan caranya sendiri yang pastinya bersifat negatif, misal pergi ke pelacuran, perselingkuhan, mabuk-mabukan, dsb. Yang kesemuanya bersifat merusak, baik diri sendiri maupun orang lain.
Mari bersama kita perhatikan 2 (dua) hal dibawah ini:
1. Doa hampir selalu adalah ekspresi dari suatu kerinduan untuk dapat bertemu dengan TUHAN.
2. Doa hampir selalu berisi 2 (dua) hal ini:
a. ucapan syukur; dalam maksud bersyukur atas segala sesuatu yang telah TUHAN berikan kepada kita.
b. permohonan; baik itu buat diri sendiri maupun untuk orang lain (syafaat)
Ketika seseorang berdoa, dia sedang berbicara dengan TUHAN. Seperti pada lazimnya orang berbicara pasti dua arah (keduanya terlibat dalam proses bicara dan mendengar). Bayangkan jika Anda sedang berbicara dengan seseorang (baik kepada pimpinan maupun bawahan) tapi yang diajak bicara diam tanpa memberi respon apapun, maka situasi ini akan membuat Anda merasakan tidak dihargai sebagai bawahan maupun merasakan tidak dihormati sebagai pimpinan. Dan pada ujung-ujungan Anda sakit hati dan marah.
Kalau kita berdoa bukan dalam rangka menjalankan perintah agama atau Kitab Suci, namun satu kesadaran bahwa kita ini butuh ketemu TUHAN supaya dapat mengetahui kehendak-NYA.
Ingat dan taruh ini dalam hati dan pikiran kita: "Otoritasi TUHAN bukan terletak pada Kitab Suci, tapi otoritasi Kitab Suci ada pada TUHAN". Jadi TUHAN bisa memberitahukan petunjuk teknis / pelaksanaan yang berbeda sekalipun bunyi ayatnya sama.
Berdasakan pengertian di atas, saya mengajak Anda memperhatikan kehidupan di sekitar kita. Benarkah Indonesia adalah negara dihuni oleh manusia-manusia yang beragama? Jika jawabannya "ya", maka seharusnya Indoneisa ini negeri yang "gema ripah loh jinawi", karena Indonesia dihuni oleh manusia-manusia yang berdoa.
Namun benarkah demikian? Mari bersama kita simak beberapa hal dibawah ini.
1. Jika Indonesia dihuni oleh orang-orang yang sungguh-sungguh beragama, maka antara masyarakat satu dengan yang lain pasti saling harga-menghargai dan hormat-menghormati dalam keperbedaan pendapat.
2. Jika Indonesia dihuni oleh orang-orang yang sungguh-sungguh beragama, maka semua punya kebebasan dalam menjalankan ritual sesuai dengan yang diyakininya.
3. Jika Indonesia dihuni oleh orang-orang yang sungguh-sungguh beragama, maka tidak akan ada intimidasi dan anarkisme (pemukulan, pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran / penghancuran tempat ibadah, dsb).
4. Jika Indonesia dipimpin oleh orang yang sungguh-sungguh beragama, maka ia tidak akan memberikan solusi yang tidak berpihak pada salah satunya.
Jadi, fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa rusaknya negara dikarenakan telah dihuni oleh banyak orang-orang yang rusak baik secara akhlak, mentalnya maupun spiritualnya.
